Legenda Desa Senuro: Warisan Leluhur Ogan Ilir, Jejak Kisah Sang Sungging dan Putri Pinang Masak yang Tetap Hidup

KORANSPM.COM

OGAN ILIR, 21 Juni 2026 – Desa Senuro yang terletak di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, menyimpan salah satu kekayaan cerita rakyat yang paling hidup dan dihormati di wilayah Sumatera Selatan. Kisah turun‑temurun tentang Sang Sungging atau KH. Abdul Hamid serta Putri Nafisah yang lebih dikenal sebagai Putri Pinang Masak, hingga kini tetap terpelihara menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, Sang Sungging dikenal sebagai sosok yang sangat menguasai keterampilan pertukangan, seni ukir, pahat, hingga ilmu arsitektur, yang dulunya berasal dari lingkungan Kesultanan Palembang. Di sisi lain, Putri Nafisah atau Putri Pinang Masak digambarkan sebagai sosok wanita yang tidak hanya berparas elok, melainkan juga bijaksana dan memiliki keahlian istimewa dalam menganyam bambu maupun rotan — hasil karyanya dikenal memiliki kualitas sangat baik hingga konon tidak tembus air.

Dalam kisah yang beredar, kedua tokoh ini sama‑sama meninggalkan lingkungan istana Kesultanan Palembang dengan alasan masing‑masing, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Senuro.

Pertemuan tersebut dalam pandangan masyarakat setempat menjadi simbol pertemuan dua keahlian besar: seni ukir dan arsitektur, serta kerajinan anyaman yang indah dan kuat. Gabungan keterampilan ini dipercaya menjadi cikal bakal berkembangnya beragam kerajinan tradisional yang menjadi ciri khas wilayah Kecamatan Tanjung Batu hingga masa kini.

Nilai nyata dari kisah ini terlihat dari jejak keterampilan yang masih lestari. Melalui tradisi lisan, Sang Sungging dipercaya telah mewariskan ilmu pembuatan rumah panggung jenis bongkar‑pasang, seni ukiran kayu, pandai besi, hingga kerajinan dari emas dan perak — keterampilan yang masih bertahan dan dikembangkan di sejumlah desa sekitar Tanjung Batu.

Sementara itu, warisan Putri Pinang Masak terasa sangat nyata di kehidupan sehari‑hari warga, terutama di Desa Senuro Barat dan Senuro Timur. Keahlian menganyam bambu dan rotan yang diperkenalkannya kini tumbuh menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat, sekaligus menjadi bukti hidup betapa kearifan leluhur masih menyokong perekonomian warga.

Lebih dari sekadar keterampilan, legenda ini sarat dengan pesan moral yang menjadi pegangan masyarakat: tentang kejujuran, kesetiaan, kehormatan, pengorbanan, keteguhan hati, serta pentingnya menjaga martabat dan kearifan lokal. Nilai‑nilai ini terus hidup dan menjadi pedoman perilaku warga di lingkungan sekitar.

Di wilayah Desa Senuro Barat, terdapat pula lokasi yang secara turun‑temurun dipercaya masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Putri Pinang Masak, beserta para pengawal dan dayang‑dayangnya. Lokasi ini senantiasa dikunjungi sebagai wujud penghormatan terhadap tokoh legendaris tersebut, dengan catatan bahwa kisah yang melatarbelakanginya merupakan bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat yang belum tentu tercatat sepenuhnya dalam dokumen sejarah tertulis.

Keberadaan legenda Desa Senuro menjadi aset berharga bagi Kabupaten Ogan Ilir. Di samping memperkuat rasa memiliki dan identitas daerah, kisah ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya dan sejarah.

Hal ini dapat terwujud jika terus didukung melalui pendokumentasian yang baik, penelitian, serta pengenalan kepada generasi muda melalui jalur pendidikan dan kegiatan kebudayaan.

Sebagai simpul makna, kisah Sang Sungging dan Putri Pinang Masak mengingatkan bahwa menjaga cerita rakyat sama artinya menjaga akar budaya.

Warisan leluhur ini memperkaya khazanah cerita rakyat Sumatera Selatan sekaligus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus melestarikan nilai‑nilai luhur sebagai bagian dari jati diri bangsa.(Tim)

Writer: TimEditor: Wandriasyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *